Tuesday, January 22, 2019

Rumah Nenek Yang Angker

Rumah Nenek Yang Angker

“Sam! Ayo masuk! Acara mau mulai, nih.” Teriak ibu Sam memanggil anaknya yang bermain di pekarangan belakang rumah.
Sam pun berlari memasukki rumah kontrakannya. Ia melepaskan sandal jepitnya, kemudian melaju menuju ruang makan. Orangtua dan neneknya sudah menanti di meja makan dengan sebongkah kua tart dengan dua buah lilin berbentuk angka satu dan tiga yang sudah menyala. Sam kemudian mengambil topi kerucut birunya yang diserahkan oleh ibunya, kemudian meniup lilinnya.

“Selamat ulang tahun yang ke tiga belas, Sam.” Sahut ibu Sam dengan bangga.
Semua terlihat bahagia dan bertepuk tangan, terkecuali neneknya. Ia terlihat murung seperti dipenuhi pikiran buruk.

“Bu, kok ibu murung, sih?” tanya ibu Sam.
“Gak tahu. Gak pernah melihat pesta, kali?” sindir Sam.
“Sam! Jaga omongan kamu. Gak sopan!” tegur sang ibu.
Muka Sam kemudian mengerut mendengar teguran ibunya. Ayahnya hanya menghela napas melihatnya.

Ibu Sam kemudian berlutut di depan anaknya.
“Sam, ibu tahu kamu tidak puas dengan semua ini. Aku tahu kamu tidak suka dengan segala kekurangan kita. Tapi, ibu mohon, kami berusaha melengkapi seluruh kekurangan kita.”
Sam menghela napas. Namun, mukanya masih tetap merengut.
“Tapi, Sam. Kamu gak perlu khawatir lagi. Kita gak perlu tinggal di rumah kontrakan ini lagi.” Usul ibunya dengan wajah senang.
Muka Sam pun kembali ceria mendengarkan. Ia pun bertanya, “Ke mana, bu?”
“Rumah nenek.”
Muka Sam kembali merengut, “Apa? Rumah nenek? Ah, mending di sini!”
“Ayolah. Lagipula, kasihan nenek. Semenjak kakek meninggal setahun yang lalu, nenek sendirian. Kita harus menamaninya. Lagipula kita gak perlu bayar kontrakan lagi.”

Maka mereka pun beranjak pada keesokan harinya. Menaiki mobil Toyota mereka, menuju sebuah pedesaan. Namun, rumah nenek tidak terletak di pusat pedesaan. Tetapi, terletak di sebuah bukit di ujung desa. Sebuah rumah bersuasana biru nan kuno.

Ayah Sam memarkirkan mobilnya di depan rumah. Sam, kedua orangtua, dan neneknya beranjak dari mobil. Muka Sam semakin merengut saat melihat rumah nenek yang bercat biru itu. Ibu Sam membukakan pintu depan. Ayah Sam mengeluarkan koper-koper dari bagasi belakang.
Sam kemudian memasukki rumah. Ruangan-ruangan dalam rumah memberikan suasana tahun 40-an yang membuat hati Sam semakin galau.

Ibu Sam kemudian mendekatinya dari belakang.
“Sam, kita sekarang tinggal di sini, ya? Ibu harap kamu bisa menerima.”
Sam hanya merengut dan menghela napas.

Matahari pagi menjulang. Cahayanya membangunkan Sam. Ia melihat pintu penghubung menuju kamar neneknya terbuka. Ia pun beranjak dan mengintip. Ia melihat neneknya terduduk di kasur dengan tampang resah seperti dilanda pikiran buruk. Sam merasa aneh dengan neneknya itu.

Saat beranjak keluar dari kamarnya, Sam melihat kedua orangtuanya memakan ayam goreng sarapan sebagai sarapan di ruang makan. Sam lalu berjalan mendekat, kemudian duduk di depan ibunya.
“Pagi.” Sahut anaknya dengan rengut di wajah.
“Kok gitu, sih nyapanya?” tanya ayahnya tidak suka.
“Nak, ibu udah bilang. Terima aja keadaan kita. Ini semua demi kebaikan kamu.” Tambah ibunya.
“Hmmm….” gerutu Sam.
“Ibu sama ayah mau pergi cari sekolah baru buat Sam. Soalnya semenjak kita tinggal di sini, kamu terpaksa harus gak sekolah di sekolah lama kamu.”
“Hah? Iiih… aku gak mau pindah sekolah!”
“Mau gimana lagi? Daripada kamu harus jauh-jauh ke sekolah lama. Jaraknya udah kayak Bandung-Jakarta, lho.”
Sam melipat kedua tangannya, lalu melanjutkan omongannya, “Ya udah, aku mau ikut.”
“Gak usah, kamu di sini aja, temenin nenek. Kasian dia sendirian.” Sahut ibunya dengan lembut.
“Ah, ibu! Aku gak suka, ah!” bentak Sam. Ia beranjak dari kursinya, lalu berlari ke kamarnya dan membanting pintu.
Ibu Sam hanya dapat resah melihat anaknya yang keras kepala itu. Ia menggenggam keningnya dengan kedua tangan. Ayah Sam menghelai rambut sang ibu guna menenangkan.

Pukul sembilan pagi. Ayah Sam menyalakan mesin mobil. Ibu Sam sudah berada di dalam mobil bersama suaminya. Kemudian mereka berangkat. Sam melihat mereka dari balik jendela di ruang tamu. Rasa geram begitu bergejolak dalam hati Sam untuk menerima semua keadaannya. Ia kemudian berjalan menuju ambang pintu kamar neneknya. Ia masih melihat sang nenek duduk di kasur dengan tampang resah penuh pikiran. Agen Bandar Sbobet

Sam kemudian mengambil potongan ayam dan nasi di ruang makan untuk diberikan kepada nenek. Ia kemudian menjamu kepada neneknya. Namun, sang nenek hanya menggeleng perlahan dengan tampangnya yang resah dan mata yang melotot.
“Nenek kenapa, sih?” bentak Sam, “Jangan kayak orang aneh, deh! Takut lama-lama Sam!” ia lalu membanting makanannya di depan sang nenek, membuat sang nenek terkejut. Sam kemudian keluar dari kamar dan membanting pintu.

Sorenya. Sam sedang asyik menyaksikan televisi. Ketika ia mengganti saluran menjadi berita, ia terkejut bahwa ternyata orangtuanya meninggal dunia akibat kecelakaan. Mata Sam berkaca-kaca. Batinnya begitu tertusuk. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan meraung-raung tangis. Air mata bergelimang di wajahnya yang memerah. Ia pun menyesal akan apa yang telah ia perbuat.

Sam kemudian memasukki kamar neneknya dengan wajah pucat penuh kesedihan. Ia melihat neneknya terbaring di kasur dengan wajah putih pucat. Sam lalu berjalan mendekati neneknya.
“M… maafin n… nenek, ya?” kata neneknya dengan suara yang sudah serak, “I… ini semua s… salah nenek. Waktu nenek muda, n… nenek kk… kepingin punya a… anak. T… tapi nenek terlanjur tidak b… bisa punya anak. Dan kakek tidak tahu. Jadi nenek bikin ritual tanpa sepengetahuan kakek. Dan iblis pun menjawab. Namun, ia membuat persyaratan, bahwa, di umur cucuku yang ke-tigabelas, dia akan mengambilmu. Dan dia akan memasukki tubuhmu. Dia juga akan merenggut jiwa anak nenek ketika anaknya sudah beranjak tigabelas. Dan sebentar lagi, ia akan datang. S… setelah nenek m… meninggal. S…Satir, S… Satir n… namanya.”
Nenek Sam menggenggam tangan Sam dengan erat. Air mata tercurah dari mata nenek. Namun, Sam terlanjur ketakutan. Ia pun melepaskan genggaman neneknya dan keluar meninggalkan neneknya yang sudah mulai sekarat.

Malamnya, setelah makan, Sam memasukki kamar neneknya. Begitu terkejut ia melihat keadaan neneknya yang tak sadarkan diri. Sam berusaha mengguncang-guncang tubuh neneknya yang terbaring. Namun, tak ada respon. Muka sang nenek begitu pucat, dan matanya pun terpejam. Sam menangis merintih melihatnya. Sekarang, ia seorang diri, tak punya siapapun.
Tanpa ia sadari, sebuah jejak bayangan melekat di lantai di belakangnya. Bayangan itu kemudian hilang dan semua lampu pun padam.

Sam terkejut, ia melihat sekeliling begitu gelap. Ia kemudian mengambil senter di laci meja rias kamar. Ia menyoroti kasur tempat nenek berbaring, namun sontak, tubuh nenek sudah menghilang. Sam dipenuhi dengan ketakutan melihatnya. Lengannya yang menggenggam senter bergetar tak karuan. Tiba-tiba, terdengar suara pintu terbanting “BAM!” dari luar kamar nenek yang terbuka.

Sam menyoroti ruang makan dari kamar nenek. Ia berjalan perlahan, menuju pintu keluar, mengendap-endap diliputi rasa takut, seraya menggengam senternya. Sesampainya di dekat pintu keluar, perhatiannya teralihkan ketika ia melihat cahaya lilin di kamar Sam lewat pintu penghubung yang sedikit terbuka.
Sam kemudian menutup pintu kamar neneknya, lalu berjalan ke samping ke pintu penghubung. Ia membuka pintu penghubung. Sam terkejut, melihat sebuah lingkaran aneh dengan lima lilin menyala di sekeliling lingkaran.
“Udah disiapin?!” pikirnya.

Sesaat, terdengar sebuah derit pintu. Suara berasal dari pintu menuju ruang bawah tanah. Sam berjalan mengendap-endap dengan penuh ketakutan, dan kegelapan yang menyelimuti, ia membuka pintu kamar, keluar menuju arah suara. Ia melihat pintu ruang bawah tanah terbuka. Perlahan ia berjingkat, kemudian berdiri menyoroti ruang bawah tanah yang terhubung dengan tangga yang menuntun ke bawah.

Seketika, tubuh Sam terhempas, jatuh menelusuri tangga, hingga terjatuh sampai di ruang bawah tanah. Kepalanya terasa ling-lung. Badannya terasa lemas dengan posisi rebahan di lantai. Ia melihat senternya yang terlepas dari genggamannya di depannya. Ia pun merangkak perlahan untuk mencapai senternya.
Ia pun berhasil mendapatkan senternya. Seketika itu, ia melihat dua pasang kaki berkulit hitam layaknya bayangan tersorot oleh cahaya lampu senternya. Tubuh Sam dipenuhi keringat. Ia berteriak sangat kencang melihat sosok itu. Dengan cepat, ia mengambil senternya, kemudian berlari ke lantai atas.

Sam berlari menuju pintu keluar rumah. Namun, apa daya, pintu keluar terkunci, dan ia tak dapat menemukan kuncinya. Ia lalu mengambil kursi yang berjajar di pinggir tembok, lalu melemparnya ke jendela samping pintu.
Tak ada hasil. Jendela tak hancur seakan jendela kaca tersebut terbuat dari baja. Sam lalu menggedor-gedor pintu, seraya berteriak-teriak minta tolong dipenuhi rasa takut. Namun, itu hanya percuma, tak ada yang dapat menolongnya.

Seketika, leher Sam terasa tercekik, membuatnya berhenti berteriak. Mukanya memerah dan ia kemudian terhempas ke lantai. Sam berteriak dan meronta-ronta mencoba melepaskan diri. Namun, tubuhnya seakan diseret di lantai menuju kamarnya. Ia pun berhenti di lingkaran di tengah-tengah lingkaran aneh yang dikelilingi oleh lilin tersebut. Kemudian, muncul rantai seketika dan mengikat kedua tangan dan kakinya.

Sam menangis tersedu-sedu. Suaranya pun habis karena berteriak meronta-ronta. Tubuhnya lemas tak berdaya. Ia melihat sosok tubuh yang hitam layaknya bayangan, meringis memperlihatkan gigi-giginya yang runcing dan tatapan mata berdarah. Sosok berdiri tepat di atas Sam.
“S…Satir?” kata Sam terbata.
Mulut Sam perlahan tebuka, melebar, dan melebar. Suara tangisannya semakin membara. Sosok itu kemudian berubah menjadi abu, lalu terbang memasukki mulut Sam terbuka lebar, yang kemudian tertutup.

Tubuh Sam kemudian menjadi kejang dan dibanjiri oleh keringat. Matanya pun terbelalak. Hingga sesaat, pupilnya menjadi merah, dan ia tersenyum meringis.

END

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews